Perbedaan Penafsiran Tentang Ayah Nabi Ibrahim AS: Kajian Menarik Antara Al-Qur’an dan Kitab Lama


Surabaya, 30 Oktober 2025 Integritasnews.my.id —

Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perbedaan tafsir dan penafsiran keagamaan merupakan hal yang wajar dan tak terhindarkan. Namun yang tidak semestinya adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi saling mengkafirkan, menyesatkan, bahkan menolak kebenaran satu sama lain. Padahal, perbedaan itu sendiri sudah ada sejak zaman para nabi terdahulu.

Salah satu contoh menarik adalah perbedaan penafsiran mengenai siapa sebenarnya ayah Nabi Ibrahim AS, sosok yang diakui oleh tiga agama besar dunia: Islam, Yahudi, dan Kristen. Dalam Al-Qur’an, ayah Nabi Ibrahim disebut Āzar, sebagaimana tertulis dalam Surah Al-An’am ayat 74:

 “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Āzar, ‘Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’” (QS. Al-An’am: 74).


Namun, dalam Kitab Perjanjian Lama (Bible), nama ayah Ibrahim disebut Terah (Kejadian 11:26), sementara dalam Perjanjian Baru (Lukas 3:34) disebut Tarah. Dalam Talmud—kitab tradisi Yahudi—nama yang disebut adalah Zarah atau Āthar. Bahkan, Eusebius, seorang bapak sejarah gereja, menyebut nama Āthar sebagai ayah Nabi Ibrahim.

Perbedaan nama ini menunjukkan bahwa bahkan di kalangan para ahli Yahudi dan Kristen sendiri tidak terdapat kesepakatan tunggal mengenai siapa sebenarnya ayah biologis Nabi Ibrahim AS.


Kajian Bahasa dan Sejarah: Āzar, Athar, atau Terah?

Kajian filologis menunjukkan bahwa bentuk nama Āthar dalam bahasa kuno memiliki kemiripan dengan Āzar dalam lafal Arab, hanya berbeda pada pengucapan. Hal ini memperkuat kemungkinan bahwa penyebutan Āzar dalam Al-Qur’an sejatinya tidak bertentangan dengan sumber-sumber Ibrani kuno, melainkan justru lebih dekat dengan bentuk aslinya.

Sejarawan Eusebius sendiri diyakini memiliki alasan kuat menyebut nama Āthar, berbeda dengan versi dalam Kitab Kejadian atau Lukas. Persamaan bunyi antara Āthar–Āzar–Zarah menandakan adanya satu akar yang sama dalam tradisi Timur Tengah kuno.


Analisis Tafsir: Ayah Kandung atau Paman?

Menariknya, sejumlah mufasir besar dalam tradisi Islam menguraikan bahwa Āzar, meskipun disebut sebagai “Ab” (bapak) dalam Al-Qur’an, bukan berarti ayah biologis Nabi Ibrahim. Dalam bahasa Arab klasik, kata Ab dapat merujuk pada ayah kandung, paman, kakek, atau pengasuh—tergantung konteks.

Dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 87 dan QS. Al-Baqarah ayat 133, istilah yang sama juga digunakan untuk menunjukkan kekerabatan non-biologis.

Konteks lain memperkuat dugaan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim telah wafat lebih dahulu, dan Ibrahim kemudian dibesarkan oleh pamannya, yaitu Āzar atau Āthar, yang memperlakukannya layaknya anak sendiri. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa Al-Qur’an menggunakan istilah Ab untuk Āzar, bukan Walid.

Bukti tambahan datang dari QS. At-Taubah ayat 114 yang menyebut bahwa Ibrahim AS berhenti memohonkan ampun untuk Āzar setelah mengetahui bahwa pamannya adalah penentang keras kebenaran ilahi. Sebaliknya, dalam QS. Ibrahim ayat 41, Ibrahim berdoa kepada Allah untuk “Wālidī”, yaitu ayah biologisnya yang sudah wafat. Kata Wālid secara bahasa hanya digunakan untuk orang tua kandung.


Keterkaitan dengan Narasi Kitab Suci Lain

Dalam Kitab Kejadian (20:12), disebutkan bahwa Sarah, istri Nabi Ibrahim, adalah “anak ayahnya namun bukan anak ibunya.” Narasi ini menimbulkan pertanyaan serius: bagaimana mungkin seseorang menikahi saudara kandungnya sendiri, jika Terah benar-benar ayah biologis Ibrahim?

Penjelasan yang lebih logis adalah bahwa Terah (Āzar) bukan ayah kandung, melainkan paman yang kemudian mengasuh Ibrahim setelah ayahnya wafat. Karena itulah, ketika Āzar memperkarakan Ibrahim di hadapan penguasa akibat tindakan memecahkan berhala-berhala kaumnya, hal itu masuk akal—seorang paman bisa menentang keponakannya, namun tidak mungkin seorang ayah menuntut anak kandungnya sendiri secara keras seperti itu.


Makna Spiritual: Toleransi dalam Perbedaan

Perdebatan panjang ini sejatinya bukan soal siapa yang paling benar secara absolut, melainkan tentang pelajaran besar dalam memahami perbedaan tafsir dengan lapang dada. Bahwa bahkan para ahli kitab, sejarawan, dan mufasir besar bisa berbeda pandangan, tanpa saling menyesatkan satu sama lain.

Sebagaimana disebutkan dalam pembukaan tulisan ini:

“Beda pendapat itu hal biasa. Yang tidak biasa adalah ketika perbedaan penafsiran berubah menjadi vonis kekafiran.”

Sejarah Nabi Ibrahim AS sendiri adalah teladan tentang dialog, akal sehat, dan pencarian kebenaran yang tulus, bukan permusuhan karena tafsir yang berbeda.


Kesimpulan

Kajian lintas kitab menunjukkan bahwa nama Āzar dalam Al-Qur’an memiliki dasar kuat secara linguistik dan historis, sementara penyebutan Terah atau Athar dalam kitab-kitab lain justru menunjukkan variasi tafsir yang luas. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak berdiri sendiri dalam narasi tersebut—justru mengukuhkan kesinambungan tradisi kenabian dengan versi yang lebih dekat pada akar bahasanya.

Perbedaan tafsir seharusnya menjadi ruang dialog dan pengayaan spiritual, bukan ajang saling menuding atau menghakimi. Sebab, hakikat iman bukan terletak pada siapa yang paling keras menafsirkan, melainkan siapa yang paling jernih memahami.


Penulis: Ifa

Editor: Redaksi Integritasnews.my.id

Sumber Rujukan: Al-Qur’an, Kitab Kejadian, Lukas 3:34, Talmud, Tafsir klasik dan literatur sejarah agama.