Sultra, IntegritasNews.my. id— Gelombang desakan publik terhadap penuntasan kasus dugaan korupsi pengadaan speed boat Azimut Yachts 43 Atlantis 56 kembali memuncak. Gerakan Persatuan Mahasiswa Indonesia (GPMI) kembali memadati gerbang Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Mapolda Sultra) sejak Kamis (27/11/25) dan memastikan akan terus berkemah setiap malam hingga AM—mantan Gubernur Sultra—ditetapkan sebagai tersangka.
Kasus yang menyeret anggaran negara hingga mencapai Rp 8 miliar itu sebelumnya telah menetapkan tiga tersangka, yakni AS, eks Kepala Biro Umum Setda Sultra periode 2018–2021 yang bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta AL, Direktur CV Wahana yang menjabat sebagai PPTK pada proyek pengadaan kapal tersebut. Namun, menurut GPMI, penyidik Subdit III Tipidkor Krimsus Polda Sultra dinilai belum menunjukkan progres signifikan terhadap dugaan keterlibatan AM.
Desakan Semakin Menguat: "Kami Akan Berkemah Setiap Malam"
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam GPMI menilai sikap lamban aparat penegak hukum berpotensi menimbulkan preseden buruk bagi penanganan kasus korupsi di daerah.
“Kami akan berkemah setiap malam hingga AM dijadikan tersangka soal Kapal Azimut Atlantis,” tegas Andrianto, Ketua GPMI, saat orasi di depan Mapolda Sultra.
Ia menilai, keterangan para saksi yang telah diberikan penyidik sudah menjadi satu unsur alat bukti kuat dan hanya menunggu petunjuk tambahan.
Menurut Andrianto, menjalarnya berbagai kasus ketidakwajaran anggaran pada masa kepemimpinan AM sebagai Gubernur Sultra tidak dapat dipandang enteng. Ia menyebut sederet temuan Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK RI), mulai dari pembangunan jalan Toronipa, gerbang Toronipa, Rumah Sakit Jantung, hingga proyek Tugu Omputaiko, sebagai bukti adanya kejanggalan besar dalam pengelolaan anggaran.
“Menurut kami ini sangat amburadul. AM harus dijadikan tersangka supaya kasus-kasus lain bisa terbuka. Ditambah lagi dugaan manipulasi pada kegiatan reses DPR RI,” lanjutnya.
Sorotan Baru: Dugaan Manipulasi Reses DPR RI
GPMI juga menyinggung dugaan manipulasi laporan reses salah satu anggota DPR RI, yakni AM, yang belakangan ramai di publik karena hanya menghadirkan enam orang peserta dalam kegiatan tersebut.
“Ini anomali yang terus berulang. Begitu halusnya uang negara dicairkan. Kapal Azimut Atlantis itu kapal rusak yang hanya didempul dan dicat lalu difoto untuk SPJ. Reses juga begitu: hanya 6 orang dipasangi spanduk, tapi dilaporkan sebagai kegiatan resmi,” ungkap Andrianto.
Ia menilai pola tersebut memperlihatkan kecenderungan manipulatif yang sangat serius.
“Menurut kami, AM ini jago manipulasi,” tegasnya.
Polda Sultra Merespons: “Kami Belum Memiliki Dua Alat Bukti yang Cukup”
Kasubdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sultra, Kompol Niko Darutama, turun langsung menemui massa dan memberi penjelasan terkait perkembangan penyelidikan.
“Untuk pengadaan itu beliau (AM) tahu. Tapi kami sampai saat ini belum memiliki alat bukti yang cukup. Keterangan saksi itu baru satu alat bukti. Kami tetap melanjutkan penyelidikan dan masih mencari alat bukti lain,” ujar Kompol Niko di hadapan massa aksi.
Ia menegaskan bahwa status AM saat ini masih sebagai saksi, dan proses penyelidikan terus berjalan.
GPMI Tegaskan Aksi Akan Digelar Setiap Hari
Di akhir penjelasan aparat, massa kembali menegaskan sikap mereka. GPMI memastikan akan terus melakukan aksi demonstrasi setiap hari baik di Mapolda Sultra maupun Kejati Sultra.
“Kami sudah berkomitmen akan terus melakukan aksi sampai AM dijadikan tersangka,” tutup Andrianto.
IntegritasNews.my.id
Pewarta: ALF — Tepat, Lugas, Konsisten
