Potensi 3 Miliar Ton Tembaga–Emas Freeport: Taruhan Besar Masa Depan Tambang Papua


Oleh: Pewarta IFA — Integritasnews.my.id

Papua — Lanskap industri pertambangan nasional kembali mencuat ke publik setelah PT Freeport Indonesia (PTFI) merilis proyeksi terbaru terkait potensi raksasa sumber daya tembaga dan emas di Papua. Angka-angka resmi yang dipaparkan bukan saja menegaskan posisi Papua sebagai kawasan mineral strategis dunia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masa depan ekonomi negara bergantung pada keputusan kebijakan jangka panjang terhadap PTFI.


Potensi 3 Miliar Ton: Aset Mineral yang Belum Tersentuh Penuh

PTFI menyebut Papua memiliki potensi sumber daya sekitar 3 miliar ton yang terdiri dari mineral tembaga dan emas. Namun statusnya masih pada kategori sumber daya, sehingga perlu eksplorasi untuk dibuktikan sebagai cadangan yang layak ditambang. Bila dikonfirmasi, potensi ini dapat memperpanjang umur produksi Freeport jauh melampaui proyeksi 2041.


1,6 Miliar Ton Cadangan Terbukti: Penopang Operasi saat Ini

Saat ini, PTFI telah mengantongi 1,6 miliar ton cadangan terbukti yang menjadi fondasi operasional perusahaan. Cadangan ini mencakup sekitar 29 miliar pound tembaga dan 24 juta ons emas yang diproyeksikan akan menopang produksi sampai masa izin berakhir pada 2041.

Cadangan terbukti ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia—menjadikan Freeport salah satu pemain kunci dalam rantai pasok mineral strategis global.


Nilai Ekonomi Mencapai US$ 80 Miliar

Estimasi ekonomi potensi cadangan dan sumber daya PTFI periode 2018–2041 mencapai US$ 80 miliar. Jika pemerintah memberikan perpanjangan izin setelah 2041, kontribusi Freeport terhadap pendapatan negara berpotensi menyentuh US$ 4 miliar per tahun.

Angka ini bukan sekadar proyeksi finansial, tetapi menjadi pertimbangan strategis pemerintah dalam menimbang keberlanjutan operasi dan posisi Indonesia dalam pasar mineral global.


Era Tambang Bawah Tanah: Teknologi dan Risiko Tinggi

Sejak penutupan tambang terbuka Grasberg pada April 2020, Freeport sepenuhnya beralih ke tambang bawah tanah. Akses menuju mineral kini dilakukan melalui sistem jaringan terowongan berteknologi tinggi yang hanya dapat dioperasikan oleh tenaga ahli dengan spesifikasi khusus.


Tambang yang hingga kini menjadi pusat produksi antara lain:

Grasberg Block Cave (GBC)

Deep Ore Zone (DOZ)

Big Gossan

Deep Mill Level Zone (DMLZ)


Model tambang bawah tanah ini memperlihatkan transformasi besar PTFI dalam menghadapi tantangan geoteknik yang kompleks, sekaligus mengandalkan SDM Indonesia yang semakin berpengalaman dalam dunia pertambangan kelas dunia.


Eksplorasi 5–10 Tahun: Penentu Keberlanjutan

Angka potensi 3 miliar ton masih perlu pembuktian. PTFI menegaskan bahwa eksplorasi selama 5–10 tahun diperlukan untuk mengonfirmasi nilai sumber daya tersebut. Tanpa eksplorasi lanjutan, potensi sebesar apa pun tidak dapat masuk ke kategori cadangan terbukti.

Hasil eksplorasi inilah yang akan menjadi dasar pengambilan kebijakan negara terkait izin operasi Freeport pasca-2041.


Penutup

Potensi mineral Papua yang mencapai miliaran ton tembaga dan emas bukan sekadar rahasia geologi. Ia merupakan bagian dari strategi besar ekonomi Indonesia di masa depan. Dengan nilai ekonomi yang begitu tinggi, Papua tidak hanya menjadi pusat minerba, tetapi juga pusat kepentingan nasional.

Ke depan, tantangan pemerintah dan PTFI adalah bagaimana memastikan bahwa potensi raksasa ini benar-benar memberi manfaat optimal bagi negara, rakyat, dan keberlanjutan lingkungan.


Integritasnews.my.id — Tepat, Lugas, Konsisten.