WwwIntegritasnews my id
JAKARTA – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan surat ucapan selamat kepada Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei atas terpilihnya sebagai Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Surat tersebut bertanggal 9 Maret 2026 dan berisi pesan politik yang sarat dengan refleksi sejarah perjuangan bangsa-bangsa dunia melawan imperialisme serta pentingnya membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara.
Dalam surat yang ditujukan langsung kepada pemimpin tertinggi Iran tersebut, Megawati menyampaikan ucapan selamat sekaligus penghormatan atas kepercayaan yang diberikan oleh para ulama dan rakyat Iran melalui keputusan demokratis 88 anggota Assembly of Experts yang memilih Mojtaba Khamenei sebagai Rahbar.
Megawati menilai, pemilihan tersebut berlangsung di tengah berbagai tantangan dan situasi yang tidak sepenuhnya kondusif. Namun demikian, Ayatollah Mojtaba Khamenei dinilai mampu meraih kepercayaan dari kepemimpinan ulama serta masyarakat Iran, yang menurutnya merupakan bukti dari kapasitas kepemimpinan, kedalaman pengetahuan, serta kemampuan menyatukan berbagai perbedaan di dalam struktur kepemimpinan Iran.
“Pemilihan ini merupakan bukti nyata dari kepemimpinan, kompetensi, kedalaman ilmu, serta tekad kuat Yang Mulia untuk menyatukan kepemimpinan Iran di tengah berbagai tantangan,” tulis Megawati dalam surat tersebut.
Menghidupkan Warisan Geopolitik Bung Karno
Dalam suratnya, Megawati juga mengaitkan momentum kepemimpinan baru Iran dengan warisan geopolitik ayahandanya, Sukarno, yang dikenal sebagai Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.
Megawati menegaskan bahwa Bung Karno sejak awal memperjuangkan persatuan bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin sebagai kekuatan global yang mampu menantang dominasi imperialisme dan kolonialisme.
Upaya tersebut, kata Megawati, diwujudkan melalui sejumlah momentum sejarah penting, seperti Konferensi Asia-Afrika 1955, pembentukan Gerakan Non-Blok pada tahun 1961, hingga gagasan solidaritas negara-negara berkembang melalui forum seperti Conference of the New Emerging Forces.
Menurut Megawati, seluruh gagasan geopolitik Bung Karno pada dasarnya merupakan upaya konkret untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih adil, setara, serta berorientasi pada perdamaian global.
“Seluruh pemikiran geopolitik Bung Karno pada hakikatnya adalah perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, serta perdamaian dunia yang berkeadilan,” ungkapnya.
Iran Dinilai Tangguh Menghadapi Tekanan Global
Megawati juga memberikan pandangannya terhadap ketahanan bangsa Iran dalam menghadapi tekanan ekonomi dan sanksi internasional yang berlangsung dalam waktu lama.
Menurutnya, sejarah panjang peradaban Iran telah membentuk karakter bangsa yang kuat dan memiliki daya juang tinggi.
Ia menilai Iran tetap mampu berdiri sebagai bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, serta memiliki identitas budaya yang kuat—sebuah konsep yang menurut Megawati sejalan dengan gagasan “Trisakti” Bung Karno.
Trisakti sendiri merupakan konsep politik Bung Karno yang menekankan tiga prinsip utama bagi sebuah bangsa: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Megawati menyatakan keyakinannya bahwa kepemimpinan Ayatollah Mojtaba Khamenei akan mampu melanjutkan perjuangan para pemimpin sebelumnya dalam menegakkan keadilan global serta menolak berbagai bentuk neo-imperialisme.
Seruan Menghidupkan Peran PBB
Dalam bagian lain suratnya, Megawati juga menyoroti pentingnya revitalisasi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mampu menjadi lembaga global yang benar-benar berwibawa dalam menegakkan keadilan internasional.
Megawati mengingatkan kembali pidato monumental Bung Karno di forum PBB tahun 1960 yang berjudul “To Build the World Anew.” Dalam pidato tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa imperialisme tidak pernah benar-benar mati, melainkan terus muncul dalam berbagai bentuk baru.
Oleh karena itu, Megawati menilai dunia saat ini membutuhkan komitmen baru untuk memperkuat prinsip hidup berdampingan secara damai, kesetaraan antarbangsa, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Ia juga berharap PBB dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam menghentikan berbagai bentuk invasi sepihak, serta mendorong penyelesaian konflik melalui dialog konstruktif.
Menurutnya, negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya tatanan dunia yang lebih damai dan bebas dari eksploitasi.
Dunia Harus Dibangun atas Dasar Kemanusiaan
Megawati menegaskan bahwa bangsa Indonesia selalu berpegang pada prinsip bahwa kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa. Oleh sebab itu, segala bentuk kolonialisme harus dihapuskan karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, sejalan dengan falsafah bangsa Indonesia, yakni Pancasila, yang menempatkan kemanusiaan, keadilan, serta perdamaian sebagai landasan dalam membangun hubungan antarbangsa.
Di akhir suratnya, Megawati kembali menyampaikan doa dan harapan agar Ayatollah Mojtaba Khamenei diberikan kekuatan, kebijaksanaan, serta petunjuk Ilahi dalam memimpin Iran melewati berbagai tantangan global.
Megawati juga berharap kepemimpinan baru Iran dapat membawa kemajuan yang adil dan bermartabat bagi rakyat Iran, sekaligus berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih damai dan berkeadilan bagi seluruh umat manusia.
Saiful Huda Ems: Sikap Megawati Sejalan dengan Warisan Perjuangan Bung Karno
Menanggapi surat tersebut, pengamat sosial-politik sekaligus aktivis demokrasi, Saiful Huda Ems yang akrab disapa SHE, menilai sikap Megawati Soekarnoputri mencerminkan konsistensi keluarga Bung Karno dalam menjaga garis perjuangan anti-imperialisme dan solidaritas antarbangsa.
Menurut SHE, pesan Megawati kepada pemimpin Iran bukan sekadar ucapan diplomatik biasa, tetapi juga mengandung dimensi ideologis yang kuat terkait warisan geopolitik Bung Karno.
“Surat Ibu Megawati kepada pemimpin Iran itu menurut saya bukan hanya ucapan selamat semata, tetapi juga pesan politik yang mengingatkan dunia bahwa semangat perjuangan Bung Karno melawan imperialisme dan membangun solidaritas negara-negara berkembang masih sangat relevan hingga hari ini,” ujar Saiful Huda Ems kepada awak media.
SHE juga menilai bahwa sikap tersebut penting di tengah dinamika geopolitik global yang masih diwarnai ketegangan antara kekuatan besar dunia.
“Dunia membutuhkan tokoh-tokoh yang berani menyuarakan keadilan global dan menolak dominasi kekuatan besar yang seringkali merugikan negara-negara berkembang. Dalam konteks itu, sikap Ibu Megawati sejalan dengan semangat Trisakti Bung Karno yang menekankan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian bangsa,” tegasnya.
Lebih jauh, SHE berharap semangat solidaritas antarbangsa yang pernah dibangun Bung Karno melalui Konferensi Asia-Afrika dapat kembali dihidupkan untuk menjawab tantangan dunia saat ini.
“Spirit Bandung 1955 harus terus dihidupkan. Dunia tidak boleh lagi dikuasai oleh praktik neo-imperialisme yang menekan bangsa-bangsa lain. Karena itu, pesan yang disampaikan Ibu Megawati kepada Iran juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan global belum selesai,” pungkasnya.
(Pewarta: IFA | Integritasnews.my.id
