Surabaya | Integritasnews.my.id – Nilai luhur budaya Jawa "Urip Iku Urup" atau hidup itu harus menyala dan memberi manfaat dinilai memiliki makna yang sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Pesan moral tersebut kembali ditegaskan oleh Abdullah Ramli dalam renungan pagi yang mengajak masyarakat menjadikan kehidupan sebagai ladang amal, pengabdian, dan kepedulian.
Menurut Abdullah Ramli, filosofi Urip Iku Urup bukan hanya mengajarkan seseorang untuk menjalani kehidupan, tetapi menuntun setiap individu agar mampu menjadi cahaya yang menerangi lingkungan di sekitarnya. Kehadiran seseorang harus membawa dampak positif, menumbuhkan harapan, serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat hadis yang sangat populer, "Khairunnas anfa'uhum linnas", yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Nilai tersebut menjadi pedoman agar setiap insan tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, melainkan juga berkontribusi nyata bagi masyarakat.
"Filosofi Jawa Urip Iku Urup sangat sejalan dengan ajaran Islam tentang Khairunnas Anfa'uhum Linnas. Hidup bukan hanya bernapas atau menjalani waktu, melainkan harus memancarkan manfaat, menghadirkan kebaikan, dan menjadi cahaya bagi orang lain, layaknya lentera yang menerangi kegelapan," ujar Abdullah Ramli.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh harta, jabatan, ataupun popularitas. Kehidupan yang bernilai adalah ketika seseorang mampu meninggalkan jejak kebaikan, menguatkan persaudaraan, membantu mereka yang membutuhkan, serta menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
Abdullah Ramli juga mengajak masyarakat untuk menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk ibadah yang memberikan manfaat nyata. Kepedulian sosial, kejujuran, semangat berbagi, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan wujud nyata dari filosofi Urip Iku Urup yang tetap relevan di tengah tantangan kehidupan modern.
"Jangan biarkan hidup berlalu tanpa makna. Jadilah pribadi yang kehadirannya dirasakan, yang mampu memberi solusi, menebarkan harapan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Itulah hakikat kehidupan yang sesungguhnya," pungkas Abdullah Ramli.
Pewarta: Ifa
