Jakarta | Integritasnews.my.id – Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) resmi mendeklarasikan kepengurusan nasional periode 2026–2031 dalam Rapat Generasi Muda ISRI yang digelar di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Deklarasi tersebut menjadi tonggak lahirnya organisasi kader intelektual muda yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, Marhaenisme, dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai pijakan menghadapi tantangan kebangsaan di era modern.
Di tengah derasnya disrupsi teknologi, ketimpangan sosial-ekonomi, krisis kepemimpinan, degradasi etika publik, hingga meningkatnya ketergantungan ekonomi nasional, Genmuda ISRI menilai Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral, kesadaran ideologis, serta keberpihakan nyata kepada kepentingan rakyat.
Melalui musyawarah mufakat, forum menetapkan Diasma Sandi Swandaru sebagai Ketua Umum, Herman Dirgantara sebagai Sekretaris Jenderal, dan Achmad Zamzami sebagai Bendahara Umum Generasi Muda ISRI periode 2026–2031. Selain itu, rapat juga mengesahkan susunan Dewan Pengurus Nasional beserta bidang-bidang strategis yang akan menjalankan agenda kaderisasi, pengembangan pemikiran, dan pengabdian kepada masyarakat selama lima tahun ke depan.
Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia, Kuncoroadi Prasetyadji, S.E., M.Han., dalam sambutannya menegaskan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan kader intelektual yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pengabdian kepada masyarakat serta menjadikan Pancasila sebagai orientasi pembangunan nasional.
"Sarjana tidak boleh menjadi penonton sejarah. Kaum intelektual harus menjadi pelopor perubahan, menjembatani ilmu dengan pengabdian, dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama perjuangannya," tegas Kuncoroadi.
Sementara itu, dalam pidato perdananya, Ketua Umum Genmuda ISRI Diasma Sandi Swandaru menegaskan bahwa Marhaenisme merupakan fondasi etik, paradigma berpikir, sekaligus arah perjuangan organisasi. Menurut Kandidat Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada tersebut, Marhaenisme tetap relevan sebagai filosofi perjuangan dalam menjawab persoalan ketimpangan, kemiskinan, pengangguran, hingga ketergantungan ekonomi nasional.
"Kami meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak. Netralitas terhadap ketidakadilan adalah keberpihakan kepada penindasan. Karena itu, Genmuda ISRI akan membangun tradisi intelektual yang kritis, progresif, dan berorientasi pada transformasi sosial demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Genmuda ISRI juga menetapkan Trisakti sebagai arah strategis organisasi, yakni mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Untuk merealisasikan visi tersebut, kepengurusan baru akan memprioritaskan penguatan kaderisasi nasional, pengembangan pusat kajian strategis, literasi kebangsaan, transformasi digital organisasi, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, serta memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen bangsa.
Menutup pidatonya, Diasma menegaskan bahwa perjuangan generasi muda saat ini bukan lagi melalui revolusi bersenjata, melainkan melalui gagasan, ilmu pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan moral.
"Kami mungkin belum memiliki kekuatan politik yang besar, tetapi kami memiliki ilmu, integritas, keberanian moral, dan idealisme. Perubahan besar selalu dimulai dari keberanian berpikir, bersikap, dan mengabdikan diri kepada rakyat. Karena itu, Genmuda ISRI memilih jalan perjuangan intelektual: Berilmu untuk Rakyat, Berjuang untuk Indonesia," pungkasnya.
Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia merupakan organisasi kader intelektual yang menghimpun generasi muda dari berbagai disiplin ilmu guna mengembangkan kepemimpinan, pemikiran strategis, serta pengabdian kepada masyarakat berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Marhaenisme. Organisasi ini berkomitmen melahirkan kader-kader muda yang kritis, progresif, berintegritas, dan berpihak kepada kepentingan rakyat sebagai fondasi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, berkepribadian, serta berkeadilan sosial.
Pewarta: Ifa


