Catatan Tajam dari Sang D.P.O, Siti Jenar dari Besuki City
Pewarta: Ifa | IntegritasNews.my.id
Di tengah gemerlap lampu malam yang membentang di sepanjang Jembatan Suramadu, satu sosok melangkah dengan gagah, membawa bukan sekadar bayangan, tetapi gagasan. Ia bukan siapa-siapa di mata mereka yang sibuk memburu pujian, tetapi ia adalah seseorang di mata mereka yang masih memegang kebenaran.
Namanya disebut: Sang D.P.O – Siti Jenar, dari Besuki City.
Dan malam itu, dalam perjalanan kontemplatifnya, ia melahirkan satu pernyataan keras namun jujur:
“Dibenci orang itu asik. Mengapa? Karena keberanian untuk jujur lebih mahal daripada disukai karena kepalsuan.”
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan dari seseorang yang lelah dibenci. Ini adalah manifesto karakter, lahir dari pengalaman dan pengamatan terhadap budaya yang semakin hari semakin lunak terhadap kebohongan, dan keras pada kejujuran.
Kebenaran yang Menantang Budaya Basa-Basi
“Di zaman ini,” ujarnya, “kejujuran dianggap ancaman. Seseorang yang menyuarakan prinsip kerap kali dianggap provokator. Padahal mereka yang diam dalam ketidakbenaran justru yang memperpanjang usia kepalsuan itu sendiri.”
Ia mengutip gurunya, seorang tokoh spiritual yang tak disebutkan namanya, yang pernah berkata:
"Jika kamu ingin maju, bersiaplah ditertawakan dan dibenci."
Dan itulah yang ia jalani: hidup dengan prinsip yang dianggap aneh oleh mereka yang telah terbiasa hidup dalam kompromi.
Menjadi Teguh di Tengah yang Goyah
“Orang yang teguh selalu mengganggu mereka yang goyah,” lanjutnya. Pernyataan ini menjadi tamparan keras terhadap budaya permisif yang tumbuh di berbagai lini, dari ruang sosial media hingga ruang kebijakan.
Kita hidup di zaman di mana kebenaran bisa dibungkam oleh popularitas. Keberanian untuk berkata jujur kerap kali dilabeli sebagai ‘cari panggung’ atau ‘pencitraan negatif’. Padahal, diam adalah bentuk pengkhianatan paling halus terhadap nurani.
Siti Jenar memilih untuk tidak diam.
Ujian Karakter Bernama Kebencian
Bagi Sang D.P.O, kebencian bukan kutukan. Itu adalah ujian karakter. Bahkan, bisa jadi bentuk penghargaan paling tulus—karena datang tanpa kemunafikan. Ia tak menuntut disukai, tapi ia menolak dipalsukan.
“Ingat,” tegasnya, “dibenci karena kebenaran jauh lebih mulia dibanding disukai karena kebohongan yang dibungkus senyum palsu.”
Pesannya sederhana, namun menghantam tepat sasaran: ketika seseorang memilih untuk jujur di tengah masyarakat yang memuja basa-basi, maka ia harus siap menghadapi kebencian, ejekan, bahkan pengucilan. Tapi dari situlah kekuatan sejati dibentuk.
Penutup di Bawah Langit Suramadu
Malam itu, angin yang berhembus di atas Suramadu seakan menjadi saksi bisu dari renungan seorang pribadi yang menolak tunduk pada norma sosial yang membusuk. Ia bukan pemuja kontroversi, tetapi pejalan sunyi yang memikul nurani.
“Wes gitu aja, wejangan anehku malam ini,” tutupnya santai. Tapi bagi kita yang membaca, ini bukan sekadar wejangan. Ini adalah panggilan jiwa, sebuah seruan untuk kembali pada integritas—nilai yang mungkin telah kita lupakan di tengah hiruk-pikuk pencitraan.
Redaksi IntegritasNews.my.id mengapresiasi suara-suara seperti ini: tajam, jujur, dan berani. Karena di tengah badai kebohongan, suara kebenaran sekecil apapun harus terus kita dengar.
Salam hormat untuk Sang D.P.O – dari Besuki City, untuk Indonesia yang lebih berani dan bermartabat.
