Www Integritasnews my id
Surabaya - Di dunia yang penuh suara, kadang yang paling melukai justru bukan tindakan, melainkan ucapan.
Sebagai insan pers, kita terbiasa menyampaikan kebenaran melalui kata — tapi sering lupa bahwa kata juga bisa melukai, bahkan lebih dalam dari sebilah pedang.
Dalam perjalanan profesi ini, saya belajar bahwa tidak semua orang mampu menjaga lisannya, meski memegang pena. Ada yang menggunakan kata untuk membangun, ada pula yang memanfaatkannya untuk menjatuhkan.
Padahal, kekuatan sejati seorang pewarta bukan pada kerasnya suara, melainkan pada kejernihan nurani.
Kita mungkin berbeda jabatan, posisi, atau usia, namun etika seharusnya tetap menjadi pakaian utama.
Karena tanpa etika, semua pencapaian hanyalah semu.
Kata yang diucapkan tanpa empati, tak akan membawa hormat — justru meninggalkan luka.
Saya menulis ini bukan untuk menghakimi siapa pun, tapi sebagai pengingat bagi diri sendiri dan rekan seprofesi:
bahwa di balik setiap berita, ada hati yang harus dijaga;
di balik setiap ucapan, ada manusia yang bisa tersakiti.
Terkadang, diam jauh lebih bijak daripada berbicara dengan amarah.
Dan ketika seseorang mampu tetap tenang meski disakiti, di situlah kemuliaan batin berbicara.
Sebagai pewarta, saya memilih jalan yang lebih berat — tetap beretika di tengah dunia yang semakin kehilangan empati.
Sebab saya percaya, integritas tidak akan pernah kalah oleh keangkuhan.
“Kata bisa membunuh, tapi juga bisa menyembuhkan.
Maka biarlah pena ini terus menulis kebaikan, walau pernah dilukai ucapan yang pedas.”
🖋️ Redaksi: Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten
📖 Rubrik: Renungan Profesi / Catatan Wartawati
