Integritasnews.my.id — Tepat, Lugas, Konsisten
Jawa Barat — Dinamika geopolitik global kembali memanas seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam situasi tersebut, pengamat sosial-politik sekaligus penulis opini, Saiful Huda Ems (SHE), melontarkan pandangan tajam dan penuh kontroversi terkait arah konflik yang dinilainya mulai menunjukkan keunggulan di pihak Iran.
Dalam pernyataan terbarunya tertanggal 26 Maret 2026, SHE secara tegas menyebut bahwa “kemenangan Iran sudah di depan mata.” Ia menilai narasi yang berkembang di media Barat kerap bertolak belakang dengan realitas di lapangan.
Menurut SHE, intensitas serangan balasan yang terus dilancarkan Iran terhadap target-target militer, termasuk yang dikaitkan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel, menjadi indikator bahwa Teheran masih berada dalam posisi ofensif. Ia bahkan menyoroti klaim yang beredar mengenai kerusakan aset militer Amerika sebagai bagian dari tekanan psikologis yang kini disebutnya mulai berbalik arah.
Di sisi lain, SHE juga mengkritisi sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai terus menggiring opini publik agar Iran mengakui kekalahan. Padahal, menurutnya, tidak ada indikasi nyata bahwa Iran berada dalam posisi terdesak.
“Ini menjadi ironi ketika pihak yang terus melakukan tekanan justru meminta lawannya mengakui kekalahan. Publik dunia tentu bisa menilai sendiri siapa yang sebenarnya berada dalam posisi sulit,” ujar SHE dalam narasinya.
Lebih lanjut, SHE menyoroti klaim komunikasi antara Washington dan Teheran yang disebut-sebut telah menghasilkan kesepakatan deeskalasi. Ia menyebut pernyataan tersebut tidak memiliki dasar kuat, mengingat pihak Iran sendiri membantah adanya komunikasi resmi dengan Amerika Serikat.
Fenomena tersebut, lanjutnya, bahkan memicu respons dari media Iran yang menampilkan karikatur sindiran terhadap Donald Trump, sebagai bentuk kritik terhadap pernyataan yang dianggap tidak kredibel.
Tak hanya itu, SHE juga menyinggung insiden ledakan besar di fasilitas energi Amerika Serikat yang tengah menjadi perhatian publik internasional. Meski belum ada hasil investigasi resmi, ia mengaitkan momentum kejadian tersebut dengan situasi konflik yang sedang berlangsung, seraya menekankan bahwa spekulasi tetap perlu disikapi secara hati-hati.
Dalam analisisnya, SHE menilai perang modern saat ini memperlihatkan perubahan pola yang signifikan. Ia menyoroti bagaimana teknologi sederhana seperti drone dinilai mampu mengimbangi bahkan menekan penggunaan alutsista mahal milik negara besar.
“Ini menjadi pelajaran penting bahwa dominasi militer tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga strategi dan efisiensi,” tegasnya.
Lebih jauh, SHE juga menyoroti kondisi internal kepemimpinan di Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut tekanan politik yang dihadapi Donald Trump serta kritik publik terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai faktor yang turut memengaruhi dinamika konflik.
Sebaliknya, Iran dinilai justru mengalami peningkatan citra di mata sebagian komunitas internasional. Dukungan dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah serta sikap tegas Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, disebut menjadi bagian dari perubahan peta dukungan global.
Di penghujung pernyataannya, SHE turut menyinggung posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik dunia. Ia mendorong Presiden Prabowo Subianto agar mengambil peran lebih aktif dan tidak sekadar berada dalam bayang-bayang kekuatan besar dunia.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil sebagai kekuatan berpengaruh. Momentum global seperti ini seharusnya dimanfaatkan untuk menunjukkan kepemimpinan yang berani dan mandiri,” ujarnya.
Sebagai penutup, SHE menegaskan bahwa ukuran kemenangan dalam perang tidak semata ditentukan oleh klaim sepihak, melainkan oleh tercapai atau tidaknya tujuan strategis yang ditetapkan masing-masing pihak.
Pernyataan ini pun kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu suara kritis yang konsisten menyuarakan perspektif berbeda di tengah arus utama pemberitaan global.
Pewarta ifa
