SPIRIT SELASA KLIWON: FILOSOFI BANGKIT DARI KEGAGALAN, AJAKAN KEMBALI KE JATI DIRI NKRI

 


WwwIntegritasnews my id

Surabaya, 28 April 2026 — Nuansa spiritual dan kearifan lokal kembali mengemuka dalam refleksi hari Selasa Kliwon yang jatuh pada 28 April 2026. Momentum ini tidak sekadar menjadi penanda kalender Jawa dan Hijriah, tetapi juga dimaknai sebagai ruang kontemplasi untuk memperkuat nilai kehidupan, khususnya tentang keteguhan hati dalam menghadapi kegagalan.

Dalam narasi yang berkembang di tengah masyarakat, Selasa Kliwon dengan jumlah neptu 11 dan lakune “Geni” dimaknai sebagai simbol energi, semangat, dan daya juang. Filosofi yang diangkat, “Mboten menapa dhawah, ingkang wigatos saget wungu malih”, menegaskan bahwa jatuh adalah hal yang manusiawi, namun kemampuan untuk bangkit kembali menjadi nilai utama yang harus dijaga.

Pewarta Integritasnews.my.id, Ifa, yang juga dikenal sebagai Advocate Musrifah, S.Sos., S.H., menilai bahwa pesan moral tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini. Menurutnya, masyarakat tengah dihadapkan pada berbagai tantangan, baik ekonomi, sosial, maupun moral, sehingga diperlukan penguatan mental dan spiritual.

“Nilai ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat bahwa setiap individu harus memiliki daya tahan menghadapi dinamika kehidupan. Jangan sampai kegagalan justru membuat seseorang kehilangan arah,” tegas Ifa dalam keterangannya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental, serta menjauhi penyalahgunaan narkoba yang dapat merusak generasi bangsa. Ajakan untuk kembali ke jati diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga menjadi pesan utama dalam refleksi tersebut.

“Hidup sehat tanpa narkoba dan kembali ke jati diri NKRI bukan hanya slogan, melainkan komitmen bersama untuk menjaga masa depan bangsa,” ujarnya.

Dari sisi budaya, pranata mangsa Dhesta Padrawana serta wuku Kurantil yang menyertai hari tersebut juga diyakini membawa makna keseimbangan antara usaha dan doa. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa manusia tidak hanya dituntut berikhtiar, tetapi juga berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Momentum ini pun diharapkan menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat untuk terus memperbaiki diri, menjaga persatuan, serta meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Di akhir refleksi, harapan disampaikan agar seluruh lapisan masyarakat senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT.

“Semoga kita semua tetap kuat, sehat, dan mampu melewati setiap ujian dengan penuh keikhlasan serta keyakinan,” pungkas Ifa.